Feeds:
Posts
Comments

Guru, engkaulah yang tersimpan dalam dadaku

disamping bunda dalam dadaku

dan bintang dan burung yang setia

dan cintamu padaku sangatlah besar

dan cintaku padamu sangatlah banyak,

Ya Allah masukkan guruku ke dalam surgamu.

 

 

(Syair Pertama yang dibuat putriku : Irnabilla , 080708 )

 

FROM BEIRUT TO JERUSALEM
EYE-WITNESS TO SABRA-SHATILA MASSACRE

Category: Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author: Dr. Ang Swee Chai

 

 

Sejujurnya ketika pertama membaca buku ini yang terbayang adalah deretan kalimat-kalimat yang berisi tentang berita peperangan yang cukup membosankan dengan setting yang seringkali kita lihat di televisi.  Akan tetapi begitu bab pertama dibaca ternyata saya sepenuhnya salah, hanya karena melihat bahwa yang membuat buku ini seorang dokter yang sama sekali belum pernah saya dengar namanya di blantika tulis menulis membuat saya under estimate- ternyata rangkaian kalimat demi kalimat telah mampu membuat saya tersihir dengan gaya bahasa dan paparan  yang membuat saya merasa nyaman membaca sebuah kesaksian seorang dokter yang tertuang dalam sebuah buku setebal lebih dari 650 halaman.

 Berlatar belakang seorang dokter tidaklah membuat Dr. Ang Swee Chai kaku dalam bertutur tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di timur tengah khususnya di Lebanon. Dimulai dari latar belakang diri Dr. Swee dan suami yang sama-sama (dan saling mendukung) dalam mempertanyakan peran diri di masyarakat dunia mengantarkan dr. Swee mendaftarkan diri menjadi dokter sukarelawan dalam kancah peperangan. Dan dukungan sang suami _Francis Khoo- serta merta menguatkan niat dan tekadnya untuk berbagi dan menolong untuk tujuan kemanusiaan bahkan ketika dr. Swee merasa ragu-ragu sang suami berkata :

“Dengarlah Swee Chai, seandainya aku dokter aku sendiri akan pergi, tapi aku bukan dokter, sehingga satu-satunya yang bisa kulakukan adalah mendorongmu pergi”. Sungguh suatu ungkapan penyemangat yang sangat kuat karena jauh di lubuk hatinya Francis seorang pengacara yang sudah mengorbankan karirnya di Singapura demi mengikuti karir sang istri di London lagi-lagi harus berkorban jauh lebih berat lagi karena dengan demikian setiap saat dia harus siap mendengar berita kematian sang istri.

 

Ungkapan- ungkapan kedokteran mengalir mudah dicerna bahkan oleh seorang awam istilah kedokteran sekalipun, menyebabkan mata sulit beranjak sebelum bab berakhir, belum lagi emosi kesedihan terbaca jelas saat dr. Swee bercerita tentang kejadilan di kamp Sabra-Shatila dengan rincian detail kejadian membuat seakan-akan kita melihat langsung kejadian tersebut. Sebagai seorang non muslim dia memaparkan benar-benar dari sudut pandang sebuah hati yang sangat tulus dan bersih. Anggapan bahwa bangsa Palestina atau negara PLO merupakan sebuah organisasi teroris langsung sirna tatkala dia bercampur baur dengan masyarakat Palestina yang terusir dari tanah airnya sendiri dan mendirikan kamp-kamp di Lebanon, beberapa kejadian yang berlangsung di depan matanya sendiri menjadikan fakta sejarah yang tidak terbantahkan.

 

Peristiwa Sabra-Shatila memang sudah berlangsung hampir 25 tahun berlalu, tapi impact dari kejadiaan itu tak pernah bisa beranjak dari memori Dr. Swee. Penghancuran kamp-kamp yang berisi generasi yang tak lagi utuh, sangat terasa memilukan, kejahatan perang memang selalu tak pernah berpihak kepada warga negara pemilik sah dari sebuah negeri, terutama wanita dan anak-anak yang tak lagi bisa merasakan keutuhan sebuah keluarga. Keganasan zionis yang terus menerus menggempur negara Palestina tidak pernah sedikitpun menyurutkan semangat para mujahidin untuk mempertahankan sejengkal tanah leluhur.

Sebagai seorang dokter yang bekerja untuk sebuah lembaga bantuan kesehatan untuk korban perang Dr. Swee mengajarkan kepada kita apa artinya kemanusiaan, empati dan persaudaraan dalam arti yang sesungguhnya.

 

Ada percakapan antara Dr Swee dengan seorang ibu yang kehilangan anaknya akibat peristiwa di Shatila yang sangat menarik saya untuk selalu ingin membaca dan membuka buku itu lagi dan lagi : (English_version)

 

[30:50] I visited Munir’s grandmother Hajjar. His grandmother at the time was in South Lebanon and when she heard that there was a massacre in Shatila the 72 year old lady was very worried so she walked 20 kilometres – all the way from South Lebanon to Shatila camp. And when she arrived she knew her family was gone. Hajjar was mourning for her family but I went in to her house because she’s Munir’s grandmother and I asked her what have you to say Hajjar? Then she broke out and told me all this in arabic:

Whats there left to say? There is nothing left to say.
Our flowers still blosom and our oranges give fragrance,
our sparrows sing their usual songs,
yet my children are no where to be found.

Beirut – you took all I had,
and you took my last important life,
my heart lies dead on your streets.

 

Abu Zuhair, my fine young son
was cruelly cut off from his roots on your soil.
Abu Zuhair – you who found your way from Tel al-Zaatar
with a Kalashnikov in your hand, to meet me Shatila,
how come you are slaughtered like a sheep?
What have I got to say?

Crow of ill-omen – please,
who told you of my where abouts?
Bearers of coffins, please move slowly
so that I can see my loved ones once again
Oh God! Please wait, just wait and Your will be done.

How I envy those of you who were around when my children died. Did you let them die thirsty?
Or were you kind enough to give then a drink?

 

Life – what life is like to us?
Our hearts have died and our tears have dried
for all the men and women who fell.

God All Mighty give us patience,
and our children – may our love be a lantern to Your path
and may God show me the holy way

 

 

Doctor, please go away -
you have reopened all our wounds,
we are so weary, what is there to say?

 

 

Bahkan pada saat sekarang pun, Dr. Swee masih aktif mengumpulkan dana untuk dikirim ke Palestina dan Lebanon untuk mendanai beberapa lembaga kemanusiaan yang bergerak di bidang kesehatan, sungguh suatu usaha yang luar biasa dan menyentil sisi persaudaan kita- saya khususnya-sebagai seorang muslim yang mau tak mau menahan nafas karena sesak dan tertunduk diam karena malu yang belum juga beranjak melakukan apa-apa.

 

Buku yang sangat inspiratif untuk berkaca bahwa rizki yang kita punya sebagian adalah hak mereka dan bercermin diri untuk tak henti bersyukur atas limpahan rahmat Allah yang tak pernah ada habisnya. Sedangkan mereka untuk menangispun air mata sudah terasa kering…

 

( january’2008 )

 

( dari buku Tears of Heaven: From Beirut to Jerusalem, karya Dr. Ang Swee Chai ,Mizan 2006 & Photo dari site tetangga-mohon ijin..)

 


 

 

 

 

Kataku,

dan ku tak tahu lagi apa,

karena begitu gundah kurasa

begitu menghimpit

dan seakan akan memecahkan

sel-sel kelabu yang bersarang’tak bersahabat,

 

pertama kusangka ku bisa

kupikir kusanggup

ku rasa itu mudah

sangat mudah

namun ternyata

tak seperti yang kubayangkan

terlalu samar

terlalu jauh

dan

berat

 

sekarang,

Kulihat semua bagai tak bersahabat

Seakan-akan serombongan pasukan semut prajurit

Bersiap menyerang dan menggigiti tubuhku

aKu ngilu,

kepalaku kebas,

terlalu banyak jalinan didalamnya

dan semuanya bagaikan berteriak..

 

kupacu tubuhku,

kudaki tebing didepanku,

kuarungi jeram dalam kuyupku

kulempar semua lempengan besi yang bisa,

dan terakhir,

kutenggelamkan diriku,

namun..

bukan itu,

karena aku kembali lagi

pada gundahku

pada piluku

dan pada perasaan awangku

 

aku tak bisa hanya lari

karena ku kan kembali pada itu

bagai putaran gasing

titiknya selalu bertemu lagi.. dan lagi..

seandainya putarannya seindah tarian cinta rumi

tak kan kusesali

dan nyata selalu butuh jawab

butuh penyelesaian

tuntas

sampai akhir

dan kurasa

kuhanya maju mundur

dalam jalur yang sama

dalam warna yang berbeda

tapi tak punya pengaruh

karena tak tandas

Dalam samar ku lihat kau berdiri

Tersenyum dalam diam

Karena sudah terlalu banyak kata

Dan terlalu lama juga tak aku dengar

Tapi kali ini

Kumau kau berkata-kata

Tentang apa saja

Asal bukan untuk memaki

Karena aku sudah kenyang makian

Dari diriku sendiri

Bukalah mulutmu

Bahkan nyanyian tidurpun akan kudengar

Atau dendang kecil yang tak berarti

Aku ingin mendengar

Apa saja

Asal bukan diam

Karena itu menyiksaku

Hening membuatku pekak

Karena terasa sangat kelam

 

Tak bisakah kau buka lagi

Walau sedikit?

 

Mengapa tanya tak hasilkan jawab,

Dalam hitam tak ada cahaya setitikpun

Biar aku tahu

Dan aku sudah pernah berada disini

Entah kapan

Mengapa sekarang ada dalam situasi ini lagi

Dan lagi..

 

Katakan padaku berapa bukit lagi

Harus kudaki

Dan mengapa langkah kadang tak dapat kubendung

Walau lelah kutetap melangkah

Tak peduli arah lagi

Kadang

Kupikir berbelok sejenak akan meredakan

Tapi ternyata tidak!

Karena deras tanya tak berhenti

Bahkan semakin bertambah

Aku tak mengerti mengapa..

Aku tak kenal siapa diriku

Kadang

Aku pun tak tahu apa yang kuinginkan

Katakan,

 

 

 

 

 

 

Katamu,

 

 

Apalagi yang kau inginkan dariku?

Sudah habis kata dan prosa kukirimkan padamu

Tapi kuyakin kau sudah melupakannya

Karena itu bagian dariku

Sementara aku

Kau seret-seret dalam besar kecil langkahmu

Dalam putaran hidup

Dan kau tak peduli

Apakah lecet dikakiku yang kemarin sudah hilang

Karena mengeringpun belum

Sudah kau paksa aku untuk mengikutimu lagi

Lewati duri-duri dan ranting kering

Kadang masih dijalan yang sama

Dan kau tahu akan menyebabkan luka

Tapi kau tak peduli

 

Mengapa tak kau tinggalkan aku

Dan berjalan sendiri

Selusuri semua yang kau mau

Yang kau inginkan

Karena kini aku sudah menjauh

Selasar ini terentang panjang dan aku baru saja akan melaluinya

Cerita apalagi yang ingin kau dengar

Mengapa kau datang dengan gundah dan tanya kembali

Bukankah tanya adalah milikku?

dan kau tak pernah punya jawab yang pasti

mengapa kini kau kembalikan tanya itu padaku

apa yang ingin kau hidupkan kembali..

 

aku tahu,

tentang gundahmu,

tentang pusaran hidupmu,

tentang lelahmu,

bahkan tentang kepalamu,

mengapa tak kau buka semuanya sekalian

karena gaduh pun tak akan membuatmu terbangun

 

sekarang,

entah untuk yang keberapa kalinya

kukatakan,,

jangan bawakan peran buat episode selanjutnya

aku tak ingin terlibat

aku sudah cukup berperan

dalam hidupmu

tapi itupun kadang tak cukup buatmu

bahkan disatu episode

tak kudengar sekalipun

sedetikpun

kudengar kau sebut aku

walau itu dalam tidurmu

apalagi dalam sadarmu

igaumu membuatku tersungkur

ke sudut ruang

hampa

aku tak punya peran

walau aku yang terpilih

tapi kau tak gubris aku

kau lempar aku

karena kau pikir peran pembantu sudah cukup untukmu

dan aku berteriak tanpa suara

aku menangis tanpa air mata

aku melolong

sampai lantak

sampai …

aku tak sadarkan diri lagi

Kau hanya menoleh

Dan menghapkan aku tetap diam

Tak beranjak

Tak bergerak

Bahkan kau tuntut aku

Tuk mengeringkan basahmu

Menyatukan retakan gelas

Yang kemarinnya kau banting

Dan aku

Lakukan… itu

Dalam harap dan pedih,

 

Setelah itu kau mulai berputar kembali

Kembali..

Kembali..

Kembali..

Mungkin sampai saat ini,

Karena akhirnya

Kau merasa mual sendiri,

Merasa pusing

Merasa tak mampu

Menyingkapkan gelap yang kau undang sendiri

Terlalu banyak tabir yang kau pasang

Dan aku tak tahu mengapa tak kau tanggalkan

Selagi masih bisa

Selagi masih mampu

Karena aku tak punya apa-apa

Kecuali ketidakyakinan

Padamu,

 

Akan kukatakan padamu

Dalam senyumku

Bahwa kau sudah terlalu jauh melangkah

Terlalu panjang jarak yang sudah kau tempuh

Sehingga aku tak tahu lagi

Karena jarak terentang

Dan aku tak mengenalimu lagi

Hanya kau sendiri yang bisa

Hanya kau yang mampu

Menghentikan semua itu

Meninggalkan semuanya

Menambal koyak yang ada

Dan  membangun kembali

Deretan yang kemaren kau tinggalkan

 

Tidak lelahkah kau atas ini?

Berhentilah sejenak

Pejamkan matamu

Buka bathinmu

Karena jiwamu telah lama tak pulang

Pada belahan jiwanya

Rebahkan seluruhnya biar luruh semua kaku

Adukan semua yang ada

Sampai tak bersisa

Hamparkan semua selendang duka

Biar kosong bagai tong

Dan kau akan rasakan

Betapa ringannya ..

Melayang bagai bulu-bulu

Yang dulu sering kita tiup bersama..

Biarkan semua menyatu dalam satu

Satu yang abadi

Yang Maha Hidup dan tak pernah mati

Tak pernah tidur

Tak pernah salah

Tak pernah juga pilih kasih

 

Biarkan tubuhmu terguncang dengan isakmu

Karena itu yang akan membasuhmu

Tak perlu merasa malu terlihat lemah

Karena kita memang tak pernah berdaya

Atas apapun

Bahkan pada diri kita sendiri

Semua prasangka yang kerap kita buat

Itu semua hanya topeng

Dari ketidakpercayaan dirimu sendiri

Biarkan..

Biarkan semuanya memelukmu

Menopang tubuhmu yang lunglai

Dan terasa tak bertulang

 

Biarkan sesalmu

Merubah semua yang buram menjadi terang

Butakan dan tulikan sejenak semua panca inderamu

Karena kau sedang tak butuh itu

Kau hanya butuh mata yang lainnya

Yang bisa lebih jernih melihat

Yang bisa jelas mendengar

Semua kebaikan

Yang sebenarnya

Bukan mimpi

Bukan pula sihir

Yang selama ini kau bangun dalam negeri anganmu,

Kembalikan dirimu

Pada sang Pemilik

Karena dari kilometer inilah

Kau harus memulai lagi

 dari titik nol

kosong

 

Itupun,

Jika kau mau.

 

 

 

 

 

untukmu ayah,

 

Ayah/

Kupanggil namamu malam ini/

Karena ingin kubagi bahagia untukmu/

Kau tau…/

Pagi  ini aku antar anak perempuanku ke sekolah/

Kupakaikan baju terbaiknya/

Kusematkan pita di panjang rambutnya/

Ikal sepertimu…/

Tak lupa kubisikkan sebaris doa keselamatan/

Persis seperti yang sering kau gumankan untukku/

Dahulu.. aku tak gubris kau karena kuanggap kau kuno/

Kini, anakku tersenyum dan mengangguk mengerti/

Dia mencium tangan dan pipiku dengan penuh cinta/

Dulu ku hanya mencium tanganmu tanda hormat,

Dan tak mengerti tentang cintamu/

Ayah../

Ketika kudengar dia menjadi yang terbaik

dia dekap piala itu/

Matanya mencari aku dalam kerumunan penonton/

Dan gerak bibirnya mengatakan ’aku sayang ibu’/

Aku terdiam dalam sesal/

Bukan karena aku tak bangga/

Tapi menyesal karena dulu kuanggap hal ini tak penting buatmu/

Mataku mulai berembun,

karena ternyata dia juga menjadi terbaik

sebagai pembaca kalam Ilahi/

Seperti harapanmu padaku ketika itu/

Dan aku tak pernah bisa penuhi/

Sampai akhir hayatmu,

aku masih tak bisa jadi seperti yang kau inginkan/

Ayah…/

Lambat-lambat kusebut kau dalam hatiku/

Ingin rasanya kau ada disini/

Untuk berbagi bangga denganku/

Karena ini seluruhnya untukmu/

Aku belum lagi pantas/

Karena putriku selalu membuatku teringat akan engkau/

Pada cintamu akan lantunan ayat-ayat Ilahi/

Begitu pula dia kini/

Semoga akan selamanya/

Sampai akhir hayatku/

Sampai akhir hayatnya/

Sampai kita bisa bersama-sama lagi/

Akan kubawa putriku ke hadapanmu/

Dengan bangga yang membuncah…//

 

(akhirussanah..June 7th, 2008 )

h u j a n

Hujan..

Kau indah

Dengan kristal-kristal yang membuncit

Membawa setitik kehidupan

Dan dengan ikhlas jatuh untuk pecah

Tanpa pamrih

Tanpa beban

Begitu bening

 

Hujan..

Kulihat sore itu dari beranda belakang rumahku

Kau menyatu basah pada tubuh anak-anakku

Kubiarkan kau meliuk menelusuri wajah

Dan lintasi tawa mereka

Meluruhkan semua tangis

Dan memandikan semua duka

 

Hujan,

Ketika kau jatuh menyentuh tanah

Bersatu padu bagai bertemu belahan hati

Seketika terserap dan hilang

Tinggalkan jejak basah

Dan bau yang sangat kusuka

Bau kehidupan..

Utuh

Bagaikan angan yang dulu terkungkung,

kini lepas seperti asap,

dan kulihat tak ada lagi bintik bintik

ataupun resah karena ragu

karena takut Salah,

dan kau lihat

kini potongan rembulan setengah sudah hiasi wajahku

karena ku tahu hanya aku yang bisa

hanya aku yang mau

dan hanya aku yang mengerti

Mengapa..

Dan savana di hadapanku

seperti mimpi-mimpi yang berujud

dan berujung dari harap

tidak nampak persis

tapi aku puas

aku suka

dan ku tahu aku benar

 

Jangan kau tanya

karena aku tak punya jawab

karena aku tak ingin

dan aku tak akan simpan lagi

biarkan sepoi angin yang mulai permainkan gaunku

membawa semua tanyamu

entah untuk siapa

aku tak peduli

ku hanya mau diriku

Utuh

Sempurna

Bahagia..

Jangan kau ganggu

karena sudah kubingkai

dalam kaca

hingga kau masih bisa lihat

tapi jangan kau ingin

memiliki

karena jauh

sudah kubeli

sudah merekat

dan enggan kubuka

 

Dalam sepenggal pagi

kumohon padamu

jangan datang

jika tak ku undang

jangan tinggalkan apapun

yang kan membuatmu menoleh

lagi..

dan     lagi..

 

Biarkan kita nikmati bersama

Udara yang mulai memenuhi

Rongga ini

 

Dari kejauhan.. dan tetap u.t.u.h

 

( 28/05/08 )

Pintaku

 

Rabb,

Kupinta Kau selalu,

Dengan rengekan dan isak tangis

Karena aku tak ingin berpaling

dariMu..

juga tak ingin Kau tinggalkan aku

ketika Kau beri aku

ataupun ketika Kau ambil dariku

dan lamat-lamat kuucap hamdallah dengan pedih maupun bahagia

Karena ku hanya punya kata itu

Untuk mengekspresikan betapa ku cinta padaMu

Dalam kekurangan yang sangat

Juga dalam kekurangajaran yang tak beradab,

 

Rabb,

Ku tahu, milikku bukanlah  milikku,

Karena semuanya fana

Dan akupun hanya bisa memeluk diri

Yang juga sebenarnya tak ada

Yang ada hanya tanda-tanda

Yang harus selalu kubaca

Namun terangi aku

Beri aku ilmuMu

Karena aku buta huruf

Karena aku bodoh

Tanpa cahaya

Aku hanyalah sibuta dan si tuli

Ajari aku Rabb,

Walau harus ku eja….

Terlalu sesak dada ini

Karena penuh

Karena terendam

 

Rabb,

Jaga aku dari salahku

Dekap aku selalu

Karena aku merasa lunglai

Aku lumpuh

Aku tak dapat bergerak

Beri aku kekuatan

Beri aku kesabaran

Selalu..

 

Rabb,

Aku rindu padaMu

Karena egoku

Karena sombongku

Karena amarahku,

Aku merasa bisa tepiskan semua

Aku rasa bisa kebaskan rasa

Tapi aku salah..

Kaulah pemilikku,

Kaulah tempat istirahat jiwaku

Ijinkan aku sandarkan

Semua lelahku,

Ijinkan aku habiskan

Semua kesalku

Biar aku merasa tak berat lagi

Rabb,

Kubisikkan namaMu yang mulia

Satu per satu…

Ku eja dalam terbata

 

Rabb,

Beri aku matahari yang lain

Beri aku angin yang lain

Beri aku air yang lain…

Andai saja aku pantas

Jika tidak pun,

Maka ambilah saja

Semua gelombang

Semua kelam

Semua hujan

Melayang

Sedih

terpojok

 

 ( 15/05/08 )

 

bisakah?

dan rentang hati sudah tak akan lagi ada

karena ku sudah memutuskan

untuk menyebrang jalan

 

mari kita saling menatap behadapan

karena itu akan semakin jelas terlihat

semua perbedaan dan persamaan

semua kebaikan dan keburukan

bahkan semua cinta dan benci…

kita tak kan bisa lagi jalan bersisian

walau hanya untuk membahas arah angin

dan curah hujan

 

mari kita saling bercermin saja

membawa semua sesal

hanyutkan semua salah

karena aku tak ingin membahas duka lagi

sudah jauh kubuang rasa itu

dan tak ingin kubangkitkan lagi

biar kita kubur semua

segala yang terkait haru

tergantung kata-kata bohong

bahkan juga cemas dan ketidakpastian

 

mari kita saling tunjuk

semua harapan yang dulu tertunda

terhenti karena kata

terbias selimut kabut

dan peta rencana pun kini kan kubuka lagi

mencari jalan dan belokan yang paling terang

biar kita tak lagi tersesat

dalam jalan labirin

memutar dan selalu ke arah yang itu itu juga

 

mari kita bicara

tentang rumah, kebun dan celoteh anak-anak

karena merekalah asa kita

pembangkit semua ingin

pembuka gerbang kehidupan

denyut yang dulu membuat kita bergairah membuka hari

 

mari kita mulai berjalan,

tetap berhadapan karena sisi sudah tak ada lagi

biar kita bisa terus saling memandang

dan terus berbicara tentang apa saja

agar bisa langsung tau warna yang terjadi

biarkan cinta kan lagi berkembang

jika itu masih bisa

karena hujan akan setia menyiram

dan selalu matahari kan buatkan hangatnya

 

mari kita menyibakkan selubung wajah

yang telah terlalu lama menempel

sehingga kita sangka topeng itu kulit kita

buka semua yang kelam

biarkan cahaya masuk

dan terang akan membuat kita tenang

jangan biarkan lagi bayang-bayang bawa hitamnya lagi

karena kelam selalu membuat lelah jiwa

 

mari kita mulai menikmati alunan nada

yang keluar dari relung-relung hati

bersenandung seperti tiada henti

mengiringi setiap hela nafas kita

buat iramanya selalu menghentak

biar semangat keluar dari kalbu kita

 

ayo, segera ambil tanganku

pegang erat walau tak berjajar lagi bahu kita

karena berhadapan membuat ikatan lebih kuat

 

bisakah..?

dan kuberbisik pelan.

 

 

(14/05/08 )

 

 

Ibu,

Jangan  menatapku seperti itu

Aku bukan pesakitan

Tapi aku juga bukan peri apalagi malaikat

Kau benar saat ini aku datang dengan sekarung belulang

Seguman kabar yang tidak sedap

Satu hati berongga bahkan bolong-bolong karena terlalu banyak koyak

Ibu

Bolehkah aku masuk pada pintu yang sama ketika aku pamit dulu?

Jangan kau siapkan aku seakan-akan aku tamu

Aku sedang tak ingin makan dan minum

Karena jiwaku saja yang haus

Rasaku saja  yang rindu

Biarkan saja aku duduk di kursi pojok ruang tengah dimana dulu aku bermain boneka

Karena ku hanya ingin duduk melingkar walau kini kursi itu sudah menjadi terlalu keras dan kecil

Ibu,

Jangan salahkan aku dengan diam begitu

Kemana cerita rakyat dan tembang-tembang yang kerap kau nyanyikan untukku

Jangan diamkan aku dengan marahmu

Jangan kau sangka aku tak pernah berdiri dan melawan

Aku bahkan sudah terlalu keras berusaha

Aku sudah mencoba

Aku sudah disana

Tolong lihat aku

Aku menyebrang

Memanjat

Mengapung

Bahkan tenggelam,

Ibu,

Perhatikan diriku

Yang telah kuyup..

Doa Perempuan

oleh : Miranda Risang Ayu

Allah

Yang Maha Kasih dan Maha Sayang

tolong dengar kata-kataku.

Masih bolehkah kusapa Engkau seperti dulu:

Kekasih?

aku ingat

Kauhadir bersama langit dan bumi,

bersama air, angin, tetumbuhan dan kupu-kupu

dan di hadapan sekuntum bunga yang baru mekar

Kita tersenyum

hingga lenyap bumi lenyap semu

dalam wewangian.

aku ingat

Kauhadir bersama pekat malam

tanpa bulan tanpa perapian tanpa peraduan

dan aku lelap dalam sujud-Mu yang panjang

hingga hadir peri-peri kecil mengetuk pintu mengucapkan salam.

Itu semua ketika

aku berpaling dari segala yang bukan.

kumasak air dan air itu milik-Mu.

kutatap lekat perkawinan sayur-mayur di belanga

dalam ingatanku kepada-Mu.

kudekap anak-anak

titipan-Mu.

kubangun mimpi-mimpi

untuk kehadiran-Mu.

Dan kurasakan

Kau tersenyum

ketika ingatanku kepada-Mu

membuatku menemukan puasa tanpa berbuka

dalam tidur dan jagaku

yang terjadi semata-mata

karena kekuasaan-Mu.

Tetapi kini

kurasa aku memang tidak layak lagi

berkata-kata.

Lihat luka-luka yang kubuat

karena kebodohanku sendiri

yang cuma manusia.

Ternyata alam semesta masih milikku, aku merajainya

harta-benda rumah pakaian milikku, aku menimbunnya

keluarga anak-anak milikku, aku takut kehilangan mereka

perkiraanku milikku, aku mempercayainya

mimpi-mimpi milikku, aku rekayasa wujudnya

diriku milikku, kucemburui cerminnya

dan harga diriku juga milikku, enggan hancur aku oleh kefanaannya.

Bertahun-tahun, Tuhanku, kubuat harapan-harapan indah

seharusnya, demi hidup-Mu pada kematianku.

tetapi ternyata

hanya untuk buaianku.

kusalahkan orang-orang

sangkaku demi kebenaran-Mu

tetapi ternyata

hanya untuk kebenaranku.

kubuat pembenaran-pembenaran

maksudku untuk meninggikan-Mu

tetapi ternyata

untuk kebanggaanku.

Semua ternyata hanya

untuk memperpanjang nafasku saja.

betapa hinanya kemanusiaanku ini.

Tuhan,

dalam tubuh-tubuh manusia yang kelaparan

dalam tubuh-tubuh perempuan yang diperkosa

dalam tubuh-tubuh anak-anak yang hancur daging dan hatinya

dalam tubuh-tubuh yang

adalah kelaparan, kesakitan dan kedunguanku sendiri

Kau Maha Tahu

aku tidak mampu menghirup udara lagi.

setiap tarikan nafasku bau bangkai

setiap tangisku adalah darah busuk

dan seluruh tubuhku

adalah aib.

Tuhan

tolong jangan lupakan aku.

Demi ingatanku kepada-Mu, yang adalah anugerah-Mu

Katakan langit dan bumi adalah Kasih-Sayang-Mu,

cukuplah bencana berguncang

sampai di sini.

Katakan semua manusia satu,

cukuplah sumpah-serapah berdarah

berkecamuk di dalam ini.

Katakan esok

semua kelemahan terampuni

cukuplah penyesalan

membuat kesadaranku tenggelam

dalam ampunan-Mu.

Penyesalan ini

semoga abadi.

Penyesalan ini

semoga bukan ada

karena kesalahan-kesalahan lagi

Tetapi ada

karena Kau adalah Tuhan

dan kami ingin lebur

dalam Maha Kasih dan Sayang-Mu.

Tuhan Sayang,

aku minta selendang gendongan

untuk menimang dan membesarkan

kehidupan baru

yang mulai tumbuh

di sela-sela reruntuhan ini.

Boleh kan?

8 Agustus 1998

(diambil dari : Pojok Kanayakan )

note:

Salah satu puisi yang sangat inspiratif, ditengah-tengah kegundahan dan kegelisahan menuju pendewasaan diri, saat hati tak lagi memiliki makna karena cinta ternyata mempunyai beribu arti, dan diri tak lagi merasa memiliki jasad dan ruh, karena sesungguhnya semua yang ada, semua yang melekat selama ini, ternyata hanya titipan dan setiap waktu bisa berkurang atau bahkan hilang..

Ego dan kesombongan merajai seluruh elemen diri, karena terlalu angkuh untuk hanya sekedar berhenti dan berucap terima kasih, karena merasa bahwa apa yang sudah kita capai sejauh ini memang sudah sewajarnya begitu, kerja keras, pengorbanan diri, waktu , pikiran, harta, dukungan dan cinta menjadi tampak seperti rutinitas yang tak lagi mempunyai arti lebih, dan ketika Sang Pemilik semua berkehendak, semua menjadi tak lagi bermakna, tak berarti karena hampa..

Semoga penyesalan tak berbentur pada tembok yang tinggi, karena selalu ada pintu yang Allah bukakan sepanjang nafas masih kita miliki, untuk lebih baik lagi, untuk lebih memaknai lagi, untuk lebih belajar lagi menuju iklasMu Ya rabb. ( Pagi-pagi: April 30, 2008 )

« Newer Posts - Older Posts »