Kataku,
dan ku tak tahu lagi apa,
karena begitu gundah kurasa
begitu menghimpit
dan seakan akan memecahkan
sel-sel kelabu yang bersarang’tak bersahabat,
pertama kusangka ku bisa
kupikir kusanggup
ku rasa itu mudah
sangat mudah
namun ternyata
tak seperti yang kubayangkan
terlalu samar
terlalu jauh
dan
berat
…
sekarang,
Kulihat semua bagai tak bersahabat
Seakan-akan serombongan pasukan semut prajurit
Bersiap menyerang dan menggigiti tubuhku
aKu ngilu,
kepalaku kebas,
terlalu banyak jalinan didalamnya
dan semuanya bagaikan berteriak..
kupacu tubuhku,
kudaki tebing didepanku,
kuarungi jeram dalam kuyupku
kulempar semua lempengan besi yang bisa,
dan terakhir,
kutenggelamkan diriku,
namun..
bukan itu,
karena aku kembali lagi
pada gundahku
pada piluku
dan pada perasaan awangku
aku tak bisa hanya lari
karena ku kan kembali pada itu
bagai putaran gasing
titiknya selalu bertemu lagi.. dan lagi..
seandainya putarannya seindah tarian cinta rumi
tak kan kusesali
dan nyata selalu butuh jawab
butuh penyelesaian
tuntas
sampai akhir
dan kurasa
kuhanya maju mundur
dalam jalur yang sama
dalam warna yang berbeda
tapi tak punya pengaruh
karena tak tandas
…
Dalam samar ku lihat kau berdiri
Tersenyum dalam diam
Karena sudah terlalu banyak kata
Dan terlalu lama juga tak aku dengar
Tapi kali ini
Kumau kau berkata-kata
Tentang apa saja
Asal bukan untuk memaki
Karena aku sudah kenyang makian
Dari diriku sendiri
Bukalah mulutmu
Bahkan nyanyian tidurpun akan kudengar
Atau dendang kecil yang tak berarti
Aku ingin mendengar
Apa saja
Asal bukan diam
Karena itu menyiksaku
Hening membuatku pekak
Karena terasa sangat kelam
Tak bisakah kau buka lagi
Walau sedikit?
Mengapa tanya tak hasilkan jawab,
Dalam hitam tak ada cahaya setitikpun
Biar aku tahu
Dan aku sudah pernah berada disini
Entah kapan
Mengapa sekarang ada dalam situasi ini lagi
Dan lagi..
Katakan padaku berapa bukit lagi
Harus kudaki
Dan mengapa langkah kadang tak dapat kubendung
Walau lelah kutetap melangkah
Tak peduli arah lagi
Kadang
Kupikir berbelok sejenak akan meredakan
Tapi ternyata tidak!
Karena deras tanya tak berhenti
Bahkan semakin bertambah
Aku tak mengerti mengapa..
Aku tak kenal siapa diriku
Kadang
Aku pun tak tahu apa yang kuinginkan
Katakan,
…
Katamu,
Apalagi yang kau inginkan dariku?
Sudah habis kata dan prosa kukirimkan padamu
Tapi kuyakin kau sudah melupakannya
Karena itu bagian dariku
Sementara aku
Kau seret-seret dalam besar kecil langkahmu
Dalam putaran hidup
Dan kau tak peduli
Apakah lecet dikakiku yang kemarin sudah hilang
Karena mengeringpun belum
Sudah kau paksa aku untuk mengikutimu lagi
Lewati duri-duri dan ranting kering
Kadang masih dijalan yang sama
Dan kau tahu akan menyebabkan luka
Tapi kau tak peduli
Mengapa tak kau tinggalkan aku
Dan berjalan sendiri
Selusuri semua yang kau mau
Yang kau inginkan
Karena kini aku sudah menjauh
Selasar ini terentang panjang dan aku baru saja akan melaluinya
Cerita apalagi yang ingin kau dengar
Mengapa kau datang dengan gundah dan tanya kembali
Bukankah tanya adalah milikku?
dan kau tak pernah punya jawab yang pasti
mengapa kini kau kembalikan tanya itu padaku
apa yang ingin kau hidupkan kembali..
aku tahu,
tentang gundahmu,
tentang pusaran hidupmu,
tentang lelahmu,
bahkan tentang kepalamu,
mengapa tak kau buka semuanya sekalian
karena gaduh pun tak akan membuatmu terbangun
sekarang,
entah untuk yang keberapa kalinya
kukatakan,,
jangan bawakan peran buat episode selanjutnya
aku tak ingin terlibat
aku sudah cukup berperan
dalam hidupmu
tapi itupun kadang tak cukup buatmu
bahkan disatu episode
tak kudengar sekalipun
sedetikpun
kudengar kau sebut aku
walau itu dalam tidurmu
apalagi dalam sadarmu
igaumu membuatku tersungkur
ke sudut ruang
hampa
aku tak punya peran
walau aku yang terpilih
tapi kau tak gubris aku
kau lempar aku
karena kau pikir peran pembantu sudah cukup untukmu
dan aku berteriak tanpa suara
aku menangis tanpa air mata
aku melolong
sampai lantak
sampai …
aku tak sadarkan diri lagi
…
Kau hanya menoleh
Dan menghapkan aku tetap diam
Tak beranjak
Tak bergerak
Bahkan kau tuntut aku
Tuk mengeringkan basahmu
Menyatukan retakan gelas
Yang kemarinnya kau banting
Dan aku
Lakukan… itu
Dalam harap dan pedih,
Setelah itu kau mulai berputar kembali
Kembali..
Kembali..
Kembali..
Mungkin sampai saat ini,
Karena akhirnya
Kau merasa mual sendiri,
Merasa pusing
Merasa tak mampu
Menyingkapkan gelap yang kau undang sendiri
Terlalu banyak tabir yang kau pasang
Dan aku tak tahu mengapa tak kau tanggalkan
Selagi masih bisa
Selagi masih mampu
Karena aku tak punya apa-apa
Kecuali ketidakyakinan
Padamu,
Akan kukatakan padamu
Dalam senyumku
Bahwa kau sudah terlalu jauh melangkah
Terlalu panjang jarak yang sudah kau tempuh
Sehingga aku tak tahu lagi
Karena jarak terentang
Dan aku tak mengenalimu lagi
Hanya kau sendiri yang bisa
Hanya kau yang mampu
Menghentikan semua itu
Meninggalkan semuanya
Menambal koyak yang ada
Dan membangun kembali
Deretan yang kemaren kau tinggalkan
Tidak lelahkah kau atas ini?
Berhentilah sejenak
Pejamkan matamu
Buka bathinmu
Karena jiwamu telah lama tak pulang
Pada belahan jiwanya
Rebahkan seluruhnya biar luruh semua kaku
Adukan semua yang ada
Sampai tak bersisa
Hamparkan semua selendang duka
Biar kosong bagai tong
Dan kau akan rasakan
Betapa ringannya ..
Melayang bagai bulu-bulu
Yang dulu sering kita tiup bersama..
Biarkan semua menyatu dalam satu
Satu yang abadi
Yang Maha Hidup dan tak pernah mati
Tak pernah tidur
Tak pernah salah
Tak pernah juga pilih kasih
Biarkan tubuhmu terguncang dengan isakmu
Karena itu yang akan membasuhmu
Tak perlu merasa malu terlihat lemah
Karena kita memang tak pernah berdaya
Atas apapun
Bahkan pada diri kita sendiri
Semua prasangka yang kerap kita buat
Itu semua hanya topeng
Dari ketidakpercayaan dirimu sendiri
Biarkan..
Biarkan semuanya memelukmu
Menopang tubuhmu yang lunglai
Dan terasa tak bertulang
Biarkan sesalmu
Merubah semua yang buram menjadi terang
Butakan dan tulikan sejenak semua panca inderamu
Karena kau sedang tak butuh itu
Kau hanya butuh mata yang lainnya
Yang bisa lebih jernih melihat
Yang bisa jelas mendengar
Semua kebaikan
Yang sebenarnya
Bukan mimpi
Bukan pula sihir
Yang selama ini kau bangun dalam negeri anganmu,
Kembalikan dirimu
Pada sang Pemilik
Karena dari kilometer inilah
Kau harus memulai lagi
dari titik nol
kosong
Itupun,
Jika kau mau.