Entah berapa juta kali aku merasa bersalah
Atas waktu, atas hati , atas lelah, atas marah, atas putus asa..
Namun tak kunjung kutemui jawaban pasti karena ragu
Bimbang atas hari esok hanyalah buram yang bahkan memandang pun aku ragu
Bukan tak pernah kubuat apa-apa
Bukan juga tak kurencanakan apa-apa
Namun tanya hati tak juga terjawab
Bukan aku tak mau mendalami dada
Diujungnya pun sudah kudatangi
Pagi, siang ..bahkan malam-malam kusediakan waktu untuk melihat
Kadang tersamar maksudnya, kadang buta dalam hitamnya
Aku bingung, aku bimbang
Jika lelah kumaki diri sendiri
Tak becus menelaah urat nadi
Yang menempel dan mengaliri darah sendiri
Mengapa justru angka –angka dan grafik yang lebih bisa ku baca
Dan kubuat prediksi dengan akurat atas otakku
Perasaanku? Dimana kamu?
Pagi,
Segala kehebohan bercampur dengan beratnya mata
Kadang mengundang amarah
Tapi buat apa? Terlalu sia-sia pikirku..
Dalam dada bergemuruh atas tak setuju
Siang,
Melaju hari mengantar sore..
Bergelut dengan rumus dan formula serta hipotesa
Buat siapa?
Tentu saja untuk buah hatiku elakku
Dan sudut itu menangis…
Karena tau bukan itu yang utama,
Malam,
Ah..mengapa juga hari terlalu cepat berlalu
Kalau tak rontok ototku dan tak berat kepalaku
Mungkin tak kan kusegerakan
Semua kulakukan permata hatiku
Dan relung itu berdarah..
Bukan….
Bukan itu yang mereka minta
Bukan itu yang mereka mau..
Subuh,
Seperti ini…
Aku melihat hati ini luruh, dan jiwa ini mengembara,
Mengombang ambing atas perananku
Ya peranku sebagai ibu
Kapan ku kembalikan hak-hak dan fitrahku
Untuk mereka, untuk Dia
Aku merasa kecil dan terpojok
Aku merasa sudah saatnya untuk bergerak
Walau sedikit..tak apa
Tuhan… bantu aku dari pelarian ini
Bukan aku tak mau, hanya berani yang belum lengkap tersusun didalam
Kalau bukan sekarang lantas kapan?
Aku tak tahu…
Tapi aku butuh siap,
Kulihat kedalam sana..
Aku memang tak selalu ada
Aku memang tak selalu siap
Aku memang tak selalu sempurna
Tapi aku ada..
Aku ingin ada..
Ya ada.
(the central plaza, 01.11.10)
