Binar yang tak pernah lepas dari matanya menatapku dalam-dalam, walaupun matanya tak besar dan bulat seperti sang adik, tapi mata seperti bulan sabit tak pernah kehilangan sinarnya, apalagi jika sedang menatapku seakan-akan jika berkedip aku akan menghilang dari pandangannya,.. dan malam ini mata layuku dan tubuh lelahku tak bisa mengelak gejolak semangat dalam matanya, dalam nada bicaranya dan semua gerak-geriknya,
dan apalagi yang akan ku sedihkan, apalagi yang hendak kupertanyakan jika sudah sebesar ini hadiah yang Kau beri??? Betapa aku tak tahu malu, jika kristal dihadapanku semakin cemerlang dan gemerlap masih tak sanggup menggugah dan menutup kedua mataku??
kupejamkan mataku karena tak kuingin kau lihat embun ada disana, kurengkuh tubuh dihadapanku dan ku dekap erat-erat, kucium panjang rambutnya, dan terguncanglah aku dalam isakku, membuatmu menengadah melihat padaku dan bertanya apa salahku?? Aku menggeleng dan tersenyum, ku berbisik di telinganya ”ibu sangat bangga padamu karena bukan saja piala-piala yang kau bawa setiap waktu buat ibu, tapi kau selalu menjadi mengingatku betapa beruntungnya ibu memilikImu, apalagi yang diinginkan seorang ibu anakku kecuali melihat kau tumbuh sehat,bahagia dan pintar… dan kau melebihi semua harapan ibu dengan selalu menjadi yang terbaik… seperti saat inikau datang padaku memberi kabar ini, terima kasih sayang.. ibu sangat bangga padamu..”