Saat itu hujan baru saja berhenti, basah.. ya bumi terasa basah,
Kulihat aspal jalan yang becek dan seketika mengotori sepatu dan ujung celanaku,
Kuhirup bau rumput yang sudah tak segar lagi, tak lagi terasa bau tanah yang merindukan hujan seperti biasanya, seperti dulu..
Lagi pula, tak realistis rasanya mengharapkan paru-paruku akan terisi dengan hawa yang sangat ku suka, bau tanah setelah hujan di jakarta,…
…
Dikota ini semua mimpi-mimpi indahku sempat runtuh,
Bahkan angan dan harapan sempat ambruk tak karuan.., bahkan ketika peristiwa itu terjadi aku tak tahu mengapa sampai terjadi, kecuali sedikit penghiburan yang tak henti kujejalkan di lekuk-lekuk sel kelabuku,
Bahkan sampai detik ini aku tetap tak tahu mengapa.., namun sekarang tak kan kupaksa lagi sel-sel malang yang tak bersalah harus menerima suapan yang tak dimintanya, walaupun kadang harus berteriak.. tak mengapa.
- – -
Kota yang sama sekali tak ramah, bahkan padakku yang kudatang padanya dengan niat yang sangat baik, tak ada sebercakpun ku berniat untuk mengotorinya, aku hanya datang untuk menumpang hidup, dan itu pun tak kuniatkan berlama-lama, tapi entah mengapa kekotoran udaranya hampir sama dengan isinya, dan kali ini pun tak kan kusalahkan siapa-siapa..
…
Saat ini kuinjakkan kakiku tanpa hirau genangan coklat yang mengambang.. dan semakin kotorlah ujung-ujung celanaku, tak apa masih bisa kubersihkan setibanya nanti, sama seperti tumpukan-tumpukan amarah dalam sudut-sudut dada, mengapa juga tak terpikir olehku untuk kubersihkan pula, walaupun ku ragu tapi ku yakin aku bisa, karena aku tak mungkin kalah, aku tak boleh menyerah, ..
Apalagi yang kuhadapi adalah diriku sendiri!!