Tuhan..
Mengapa kata maaf begitu mudah kuucapkan
Tapi begitu sulit kuresap dalam dadaku
Bagaikan mendaki yang tak henti
Sampai sesak dada ini
Penuh mata ini
Dan kebaslah semua rasa
Mengapa marah jadi begitu mudah ada
Bagai kembang api yang terpecik panas
Membunga dan mengembang
Panas terasa
Sampai merah yang ada
Kulihat di cermin diriku
Siapa disitu Tuhanku..?
Siapa yang ada dalam diri
Karena tak kukenal lagi
Dalam satu helaan nafas
Yang semakin terasa basah dan berat
Aku merasa tercekik sendiri
Bagai terkunci dalam lemari berdebu
Dan aku merasa udara hampa
Begitu panas,
Begitu berdebu,
Begitu berat..
Aku tak bisa bernafas
..
Satu-satu ku ambil kembali
Kesadaran mulai datang
Dan aku sudah jatuh terduduk
Karena tak kulihat lagi aku
Yang dulu
Kemana sabarku Tuhanku..?
Menguap bagai embun terkena matahari
Seperti tak bersisa lagi
Sia-sia kukumpulkan sedikit demi sedikit
Kini seperti tak pernah ada
Kutertunduk dalam,
Gemetar menahan rasa
Semua menjadi kacau balau
Tercampur bagai adonan
Kembalikan sadarku,
Pulanglah insafku
Lekatlah dalam-dalam
…
Jangan pernah tinggalkan aku
Karena aku
- – -
Bukan aku
- – -
Dan aku pilu
Selasa_pagi(16/09/08)