Ayah/
Kupanggil namamu malam ini/
Karena ingin kubagi bahagia untukmu/
Kau tau…/
Pagi ini aku antar anak perempuanku ke sekolah/
Kupakaikan baju terbaiknya/
Kusematkan pita di panjang rambutnya/
Ikal sepertimu…/
Tak lupa kubisikkan sebaris doa keselamatan/
Persis seperti yang sering kau gumankan untukku/
Dahulu.. aku tak gubris kau karena kuanggap kau kuno/
Kini, anakku tersenyum dan mengangguk mengerti/
Dia mencium tangan dan pipiku dengan penuh cinta/
Dulu ku hanya mencium tanganmu tanda hormat,
Dan tak mengerti tentang cintamu/
Ayah../
Ketika kudengar dia menjadi yang terbaik
dia dekap piala itu/
Matanya mencari aku dalam kerumunan penonton/
Dan gerak bibirnya mengatakan ’aku sayang ibu’/
Aku terdiam dalam sesal/
Bukan karena aku tak bangga/
Tapi menyesal karena dulu kuanggap hal ini tak penting buatmu/
Mataku mulai berembun,
karena ternyata dia juga menjadi terbaik
sebagai pembaca kalam Ilahi/
Seperti harapanmu padaku ketika itu/
Dan aku tak pernah bisa penuhi/
Sampai akhir hayatmu,
aku masih tak bisa jadi seperti yang kau inginkan/
Ayah…/
Lambat-lambat kusebut kau dalam hatiku/
Ingin rasanya kau ada disini/
Untuk berbagi bangga denganku/
Karena ini seluruhnya untukmu/
Aku belum lagi pantas/
Karena putriku selalu membuatku teringat akan engkau/
Pada cintamu akan lantunan ayat-ayat Ilahi/
Begitu pula dia kini/
Semoga akan selamanya/
Sampai akhir hayatku/
Sampai akhir hayatnya/
Sampai kita bisa bersama-sama lagi/
Akan kubawa putriku ke hadapanmu/
Dengan bangga yang membuncah…//
(akhirussanah..June 7th, 2008 )