Ikhlas buat saya pribadi adalah sebuah penyerahan total kepada Sang Maha Pencipta, Tuhan Semesta Alam, Pemilik semua yang ada di langit dan di bumi, dan ini adalah tahapan yang sangaaaaaat…jauh buat saya yang sangat awam dan masih sangat jauh dalam kesempurnaan beribadah.
Tetapi untuk sebuah awalan perjalanan yang panjang tadi saya kira saya juga ingin memulai dengan satu atau dua langkah kecil yang mungkin buat orang lain tak berarti apa-apa, tapi justru sangat berarti buat diri sendiri, setidaknya langkah awal dengan memancangkan sebuah niat di hati ini.
Berat terasa awalnya karena minim referensi meskipun itu cuma alasan saja, karena dijaman buku-buku bagus mudah didapat dan internet yang memuat masalah ini lalu lalang didepan mata tidak ada alasan untuk tidak tahu, tapi aplikasinya itu.. duh .. tidak segampang membalikan telapak tangan, tapi… tiada yang tidak berarti tanpa usaha.
Usaha untuk selalu ikhlas, berlapang dada dan terus menerus mengucapkan syukur alhamdulillah memang terkadang lancar di ujung lidah saja, ketika hati dan kalbu ini mulai memikirkan pasrah apapun yang Allah Swt kehendaki maka seketika itu pula kepala mulai dipenuhi oleh perasaan negatif yang mengotori isi kepala untuk kemudian merambat ke dalam hati.
Apalagi ketika gundah, dan kekecewaan juga cobaan datang kedalam kehidupan kita, maka mulailah episode jahiliyah mampir ke rumah kita, karena tanpa kita sadari kita mempersilahkan masuk bahkan kita buka pintu lebar-lebar. Amarah, kebencian, kekecewaan dan dendam mengelilingi phisik dan psikis kita, dan dalam keadaan seperti itu, kalimat-kalimat bersyukur tampaknya sedang bersebrangan dengan kehidupan kita, bahkan tangisan dan untaian doa untuk meminta bantuan dan pertolongan dari Sang Khalik seakan hanya berada di bibir saja, menyedihkan memang.. tapi itulah yang sering terjadi, kadang kesadaran untuk tetap berkata ”alhamdulillah” terlupakan begitu saja dari hati dan kepala kita. Bahkan disaat-saat seperti itu kelelahan tidak saja mendera kalbu tapi juga raga.
Dan pastilah karena belas kasihan dari Allah sematalah, doa-doa mulai berbalas jawaban, itu pun terkadang tak cukup memuaskan dahaga yang seakan tak ada ujungnya, selalu dan selalu terasa kurang..
Bayangkan saja, ketika musibah datang seperti kehilangan orang yang kita cintai, atau sesuatu yang kita sudah raih dengan susah payah tiba-tiba hilang dari genggaman kita, maka perasaan yang datang adalah marah, sedih, kecewa dan tidak terima, sehingga makna dari semua persoalan yang datang kadang tak bisa dibaca dengan jelas, bagaimana mungkin kita dapat membaca pesan-pesan dari Illahi jika hati sedang berkabut, bagaimana hikmah bisa kita ambil jika hati sedang dihantam badai gelombang, bahkan tsunami di hati ini semakin membahana memenuhi setiap detak jantung dan memblok alur jalan jaringan sampai pada sel yang terkecil dan terjauh, dengan dada berdebar-debar dan kepala memerah karena dipenuhi aliran darah yang terasa pecah di wajah, maka perasaan sebagai orang paling malang sedunialah yang bersemayam di kalbu.
Saat-saat seperti itu, kita-saya khususnya- sering merasa lupa untuk berhenti sejenak, bahkan untuk memberi kesempatan udara segar datang ke dalam dada pun tak terfikir lagi, sehingga dengan nafas tersenggal, air mata mengalir dan hidung yang memerah karena produksi slem yang meningkat tajam, kita merasa sudah dan siap menghadapi dan mengurai masalah, padahal kalau dirunut-runut dan dirasa-rasa setelahnya tidak ada alasan kita untuk tidak berucap hamdallah, karena sepahit apapun tetap saja kita harus bersyukur karena ternyata Allah masih memilih kita dan memberikan kepercayaan kepada kita untuk menghadapi ujian-ujian tersebut, namun masalahnya adalah pada titik mana kita bisa untuk selalu menyadari bahwa semua yang kita lewati itu adalah bentuk ujian untuk naik kelas ke tahapan berikutnya, karena kita selalu berburuk sangka dan menganggap semua kejadian buruk yang ada itu adalah musibah bahkan kadang terasa sebagai hukuman.
Saya sendiri misalnya menyadari bahwa semua yang Allah berikan adalah berkah terlepas dari perasaan pribadi bahwa itu peristiwa menyenangkan atau menyakitkan selalu saja terlambat untuk bersyukur, bahkan ada suatu peristiwa yang cukup traumatik memakan waktu bertahun saya baru menyadari bahwa Allah Swt itu ternyata sangat sayang pada saya, buktinya saya bisa melalui semua itu dengan penggantian yang berlimpah dan jauh lebih berlipat daripada sebelumnya, hanya saja untuk bersyukur untuk karunia yang tidak terhingga ini pun kadang luput dari hati.
Sekarang diatas semua kejadian demi kejadian yang datang dan pergi dalam kehidupan kita semakin memperkaya saya untuk selalu berfikir dan menganalisa bahwa di atas semua kesakitan, kekecewaan dan penderitaan baik yang kadarnya ringan maupun yang berat semua harus selalu bertuju pada satu, pendewasaan diri dan pengalaman adalah salah satu karunia yang tidak semua orang bisa dapatkan, tidak juga dibangku sekolahan ataupun membaca beribu-ribu jilid buku,dan Allah memberi kesempatan kita untuk merasakan dan melaluinya, karena seperti tersurat dalam salah satu ayat Al-Qur’an yang intinya menyatakan bahwa Allah tidak akan menimpakan kesulitan dimana orang tersebut tak akan kuat menghadapinya, dan yang paling tahu mahluk bernama manusia itu kuat atau tidak tentu saja sang Pencipta yaitu Allah Swt.
Sekarang saya yakin selalu ada hikmah yang cepat ataupun lambat akan kita sadari, dan semua itu tergantung dari kejelian dan kesadaran kita untuk memilih jalur cepat untuk tahu maknanya atau jalur lambat dengan berlama-lama menikmati luka sehingga semua tanda-tanda yang Allah berikan buat kita menyibak rahasia pencarian makna menjadi semakin sulit bahkan tertutup, jadi karena hidup itu adalah pilihan maka tentu saja saya ingin selalu memilih jalur cepat meskipun saya sangat menyadari bahwa jalur itu cukup sepi karena untuk sampai pada jalan yang pertama tadi pun diperlukan effort yang tidak kecil dan hal ini sangat berkaitan dengan keimanan, dan sang keimanan-pun terkadang tidaklah stabil kadang naik dan terkadang turun, tapi satu langkah sudah saya jejakkan maka tak ada alasan lagi buat saya untuk tidak berucap Alhamdulillah… ( I.R 01/02/08 )