Feeds:
Posts
Comments

apa yang harus kukatakan ketika hidup terasa sempurna,

sangat sempurna bahkan!

kunikmati pagi yang begitu damai mengiringiku berikhtiar

langkah demi langkah terasa begitu ringan,

dengan membawa kabar tentang prestasi anak-anakku,

tentang rumah baru kami, tentang suami yang mendukungku pergi jauh untuk beribadah,

tentang kepercayaan yang terasa penuh memenuhi udara

dan tentang semua keinginan yang terasa satu per satu tercapai..

ku mendesah perlahan..

terasa ada yang janggal dengan semua kesempurnaan ini

tidakkah terlalu sempurna untukku?

kuabaikan…,

 

Dan,

dua tahun telah berlalu..

terlalu lama mungkin untuk mengkaji sebuah kejadian

dan memahaminya selama itu

sampai pada satu kesadaran dan akhir dari semua renungan

yang terasa panjang dan hampir tanpa ujung

 

Ketika,

semua indah, semua senyum semua tawa

seakan tergerus hancur..

tergantikan dengan hari-hari  penuh sesal

penuh tangis, penuh marah dan penuh dendam

seakan sang angkara sedang duduk diatas gelombang

dan menyapu habis tonggak-tonggak bernama bahagia

 

Lantas,

semilyar tanya memenuhi ruang yang terlewati

dan berujung pada : Mengapa aku?

dua puluh empat bulan kemudian baru kujawab sendiri : mengapa tidak?

 

Kemudian,

terurailah satu per satu..

sangat lamban.. bagai tetes air infus yang mengalir

satu demi satu jatuh setetes. Tak lebih. Tidak juga kurang

dan aku sangat tak sabar karenanya..

namun sangat kubutuhkan

karena memang seharusnya

seharusnya… ya seharusnya…

 

Pagi ini,

jam sebelas siang,

telepon mejaku berdering,

dan seseorang mengatakan : selalu waspada pada hidup

apalagi ketika hidup terasa sempurna

….

…..

 

Aku,

terdiam, bergetar dan terpana,

mengapa tak kutahu sejak dulu

setidaknya dua tahun yang lalu

karena kesempurnaan bukan milik kita

karena itu tak mungkin

karena itu tak layak

karena hanya satu yang Maha Sempurna.

 

Maaf,

atas semua kesombongan

atas semua keponggahan

atas semua kepuasan

 

Alhamdulillah tak Kau ambil banyak dariku untuk faham

hanya goresan luka yang bekasnya harus beri ajar padaku

walau aku tahu terus menempel sampai akhir hayat

aku ridho..insyaallah.

 

 

(enam Juli 2009)

Kawan, seperti sebuah roda yang bagaimanapun dia akan digunakan tetaplah akan bulat melingkar dia, kelokan dan lengkungan yang nyaris sempurna tak ada bentuk lain yang memilikinya.. ya  seperti juga kehidupan dimataku, melingkar…kanan-kiri-atas-bawah..tak bersudut, tak berpojok sehingga tak akan melukai siapapun..

 

Kawan, satu episode yang kau lewati kemarin seolah mengujar bahwa roda juga naik dan turun.. bisa kita sangka bisa kita duga bisa juga datang tiba-tiba..begitu saja, dan kekuatan apa yang bisa menepis semua hukum alam kecuali satu, Sang Maha?

 

Kawan, dalam satu adegan hidup seringkali kita tertawa-tawa.. menangis tersedu ataupun perpaduan diantaranya, dan saat itulah sebenarnya makna! Karena rasa dan pikir bukanlah milik kita maka ikut sajalah..

Ikut pada tanya yang tak henti..

Ikut pada arus yang bergelora..

Ikut pada angin, hujan, gelombang dan sinar  matahari..

Karena itulah takdir.

 

Kawan, tak usah kau tanya mengapa..?, karena jawab adalah hari esok, dan hari depan adalah harapan kita, hanya saja kita kadang terheran-heran mengapa biru dan abu-abu berulang lagi, tapi siapa kita? Mengapa tak kau syukuri saja karena itu akan menempamu menjadi semakin kuat dan liat…

 

Kawan, jika suatu saat kau ingin menumpahkan semua isi dadamu..menangis saja! Itu tak akan membunuhmu dan membuatmu lemah, dan jika kau merasa merah karena lubang didadamu terbuka.. nikmati saja! Itupun tak akan membuat orang menjadi lebih mengerti kecuali diri kita sendiri…

 

Kawan, percayalah pada satu masa ketika kau hela udara yang tak berbayar ini… kenikmatanlah yang terasa dan kau pandangi malam yang tak berbintang menjadi teramat indah dan lembab ruanganmu terasa harum semerbak.. itu karena hatimu sedang bercahaya hingga apapun yang kau sentuh dengan semua inderamu menjadi sangat istimewa, dan pastikanlah bahwa kau memang berhak atas semua itu…

Cepat… ataupun lambat…

Karena aroma keikhlasan sedang memenuhi semua sel-sel tubuhmu.. dan roda kehidupan akan seolah terhenti disatu sisi

..kebahagiaan..

 

To. All my friends

(spec. Dayu ~ congrats 4 new ass. ~  n Nuning~ happy birthday! ~)

03/04/09

Aku sayang ibu

Seperti debu dan asap
Hanya ada angina yang berkeliaran
Dan ketika aku sakit
Hanya ibu yang bisa membantuku
Dan hanya aku yang percaya
Ibu ada didalam tanganku…

February 2009

Mungkinkah?

Aku mengangguk dalam-dalam

Dalam keyakinan yang tak ada bandingannya

Sangat jelas walau tak terlihat kasat

Bisakah?

Aku mulai gamang..

Karena aku tak punya kuasa

Tapi selalu diberi pilihan

Dan tak mungkin aku akan menukar dengan apapun

Di saat ini.. disini..

Dalam ketidakpastian

Aku selalu tersadarkan

Ada cinta yang selalu dan akan selalu

Menungguku

Betapa melegakan..

Dan dalam keabadian yang tak tergantikan

Sungguh kemulyaan

Apakah benar buatku?

Hanya segumpal denyut yang tahu

Karena memang begitu

Tapi tolong..

Aku akan datang

Pada Cinta

Pada Keabadian

Tunggu aku

Beri aku saat

Beri aku jenak…

Aku ingin..

Bagai dahaga yang merindukan embun

Basahi lidahku agar tak kelu

Dan biarka rangkaian permohonan

Terbentuk dan meluncur dari sana

 

Sungguh..

Aku bersungguh-sungguh ..

Aku sedang menunggu

Pada saatnya tiba

Pada waktunya nanti

Aku ingin,

Cintaku akan menyambutku

Dalam kemegahan yang abadi

 

Dan kini,

Aku pun tahu

Sampai kesana aku akan terluka

Parah

Akan banyak air mata

Akan banyak duri dan kerikil

Dan denyut itupun semakin menggigil

Dan membahana

….

Cinta…

Aku ingin datang sekali

Akan kupersembahkan

Semua hidup

Dan semua matiku

Hanya padaMu..

 

satu

Cinta
Seperti geming yang tak bertepi
Bagai awan yang rentan bentuk
Laju arus sungai untuk tempat yang lebih rendah
Dan bulatpun menjadi terlalu banyak sisi…

Cinta
Apa gerangan yang seharusnya
Karena tak ada

Pada saat warna kelabu menjadi hijau kebiruan
Putarannya tak seperti garang
Kadang bising namun senyap
Dalam terlalu dalam…

Cinta
Rasa yang tak sepantasnya kadang datang
Pada waktu dan saat yang salah
Tapi menurut siapa?
Aku?
Kau?

Cinta
Bagaimana seharusnya?
Karena tak pernah ada yang bisa

Cuma satu
Ya..Cuma S.A.T.U

Permata bunda

 

Binar yang tak pernah lepas dari matanya menatapku dalam-dalam, walaupun matanya tak besar dan bulat seperti sang adik, tapi mata seperti bulan sabit tak pernah kehilangan sinarnya, apalagi jika sedang menatapku seakan-akan jika berkedip aku akan menghilang dari pandangannya,.. dan malam ini mata layuku dan tubuh lelahku tak bisa mengelak gejolak semangat dalam matanya, dalam nada bicaranya dan semua gerak-geriknya,

 

dan apalagi yang akan ku sedihkan, apalagi yang hendak kupertanyakan  jika sudah sebesar ini hadiah yang Kau beri??? Betapa aku tak tahu malu, jika kristal dihadapanku semakin cemerlang dan gemerlap masih tak sanggup menggugah dan menutup kedua mataku??

 

kupejamkan mataku karena tak kuingin kau lihat embun ada disana, kurengkuh tubuh dihadapanku dan ku dekap erat-erat, kucium panjang rambutnya, dan terguncanglah aku dalam isakku, membuatmu menengadah melihat padaku dan bertanya apa salahku?? Aku menggeleng dan tersenyum, ku berbisik di telinganya ”ibu sangat bangga padamu karena bukan saja piala-piala yang kau bawa setiap waktu buat ibu, tapi kau selalu menjadi mengingatku betapa beruntungnya ibu memilikImu, apalagi yang diinginkan seorang ibu anakku kecuali melihat kau tumbuh sehat,bahagia dan pintar… dan kau melebihi semua harapan ibu dengan selalu menjadi yang terbaik… seperti saat inikau datang padaku memberi kabar ini, terima kasih sayang.. ibu sangat bangga padamu..”

 

 

 

 

 

 

 

Hari itu hari Jum’at,

Hari baik pikirku, dan aku melaju..

Membawa semangat dan haru,

 

Tak baik menangis di hari baik, pesan ibuku dulu..

Jadi kutahan saja tetesan itu

Walaupun kutahu aku menjadi kelabu..

Aku menyeraaaahhhh…

Aku kalah…

Dan aku menjadi a.b.u..

Aku dan kotaku,

Saat itu hujan baru saja berhenti, basah.. ya bumi terasa basah,

Kulihat aspal jalan yang becek dan seketika mengotori sepatu dan ujung celanaku,

Kuhirup bau rumput yang sudah tak segar lagi, tak lagi terasa bau tanah yang merindukan hujan seperti biasanya, seperti dulu..

Lagi pula, tak realistis rasanya mengharapkan paru-paruku akan terisi dengan hawa yang sangat ku suka, bau tanah setelah hujan di jakarta,…

Dikota ini semua mimpi-mimpi indahku sempat runtuh,

Bahkan angan dan harapan sempat ambruk tak karuan.., bahkan ketika peristiwa itu terjadi aku tak tahu mengapa sampai terjadi, kecuali sedikit penghiburan yang tak henti kujejalkan di lekuk-lekuk sel kelabuku,

Bahkan sampai detik ini aku tetap tak tahu mengapa.., namun sekarang tak kan kupaksa lagi sel-sel malang yang tak bersalah harus menerima suapan yang tak dimintanya, walaupun kadang harus berteriak.. tak mengapa.

- – -

Kota yang sama sekali tak ramah, bahkan padakku yang kudatang padanya dengan niat yang sangat baik, tak ada sebercakpun ku berniat untuk mengotorinya, aku hanya datang untuk menumpang hidup, dan itu pun tak kuniatkan berlama-lama, tapi entah mengapa kekotoran udaranya hampir sama dengan isinya, dan kali ini pun tak kan kusalahkan siapa-siapa..

Saat ini kuinjakkan kakiku tanpa hirau genangan coklat yang mengambang.. dan semakin kotorlah ujung-ujung celanaku, tak apa masih bisa kubersihkan setibanya nanti, sama seperti tumpukan-tumpukan amarah dalam sudut-sudut dada, mengapa juga tak terpikir olehku untuk kubersihkan pula, walaupun ku ragu tapi ku yakin aku bisa, karena aku tak mungkin kalah, aku tak boleh menyerah, ..

Apalagi yang kuhadapi adalah diriku sendiri!!

AMARAH!

Tuhan..

Mengapa kata maaf begitu mudah kuucapkan

Tapi begitu sulit kuresap dalam dadaku

Bagaikan mendaki yang tak henti

Sampai sesak dada ini

Penuh mata ini

Dan kebaslah semua rasa

 

Mengapa marah jadi begitu mudah ada

Bagai kembang api yang terpecik panas

Membunga dan mengembang

Panas terasa

Sampai merah yang ada

Kulihat di cermin diriku

 

Siapa disitu Tuhanku..?

Siapa yang ada dalam diri

Karena tak kukenal lagi

Dalam satu helaan nafas

Yang semakin terasa basah dan berat

Aku merasa tercekik sendiri

Bagai terkunci dalam lemari berdebu

Dan aku merasa udara hampa

Begitu panas,

Begitu berdebu,

Begitu berat..

Aku tak bisa bernafas

..

 

Satu-satu ku ambil kembali

Kesadaran mulai datang

Dan aku sudah jatuh terduduk

Karena tak kulihat lagi aku

Yang dulu

Kemana sabarku Tuhanku..?

Menguap bagai embun terkena matahari

Seperti tak bersisa lagi

Sia-sia kukumpulkan  sedikit demi sedikit

Kini seperti tak pernah ada

 

Kutertunduk dalam,

Gemetar menahan rasa

Semua menjadi kacau balau

Tercampur bagai adonan

Kembalikan sadarku,

Pulanglah insafku

Lekatlah dalam-dalam

 

Jangan pernah tinggalkan aku

Karena aku

- – -

Bukan aku

- – -

Dan aku pilu

 

 

Selasa_pagi(16/09/08)

Cukup,

Sudah kucukupkan kini

Buat diriku sendiri

Bukan buat dirimu, dirinya atau siapapun

 

Aku sudah merasa cukup

Karena itu, kini aku akan memulai lagi

Yang lain lagi

Bagian yang baru lagi

Sampai pada waktunya nanti

Ketika aku akan

Berkata sama seperti hari ini

Semua sudah cukup!

 

 

 

02/09/08

Older Posts »